Senin, 11 September 2017

Cerpen Berjudul "Aduh"



Aduh

            Kala kecil itu,seorang cewek imut yang tomboy dan suka main di bawah teriknya sang mentari sedang berlarian. Yes, it’s me. Tapi meskipun sifatku kayak gitu, bagiku urusan sekolah nomer satu. Sebagai siswi, akupun berhak punya masa depan dengan bercita-cita menjadi sosiolog yang nantinya akan melakukan observasi terhadap perilaku masyarakat di sekitar. Kira-kira profesi itu akan menjadi berkah, karena hobiku akan sebanding dengan berbagai kegiatan pada profesi yang aku cita-citakan.

            Hoamm.. Pancaran sang bintang pagi yang menyelinap masuk melalui ventilasi kecil di kamarku itu berhasil membangunkanku dari lelap yang membawaku pada bunga tidur. Akhirnya aku pun bangun, dan menyegerakan sholat subuh. Kusambung kegiatan tadi dengan mandi dan berbenah diri, tak lupa beberapa suap nasi kulahap untuk mengisi perut kosong ini agar tubuhku tidak lunglai saat menerima pelajaran dari bapak dan ibu guru. Aku pun berpamitan kepada ibu untuk meminta restu agar selamat sampai tujuan. Dan ayah, harus mengantarku setiap hari karena jarak dari rumah ke sekolah cukup jauh.

Aku memasuki gerbang bangunan kokoh yang sudah berdiri cukup lama, masyarakat sering menyebutnya SDN Wandanpuro 3. Seperti biasa, kujumpai suasana kelas yang riuh sebelum bel masuk berbunyi. Tak lama, Martin, tetanggaku juga teman satu sekolah yang tinggi dengan rambut sedikit ikal itu menghampiriku,

“Bagaimana kalau nanti pulang sekolah kita mencari tebu di sawah pak Budi sama Huda dan Aziz ?” tanyanya.

Tanpa basa basi aku langsung mengiyakan pertanyaan yang membuatku bersemangat itu.

 “Oke, aku tunggu kehadiranmu sepulang sekolah nanti. Jangan lupa bawa pisau ya buat ngambil tebunya!” jawabku sangat girang karena terbayang serunya nanti kala berada di sawah.

Tiba-tiba bel masuk dengan alunan nyaring yang akrab di telinga warga sekolah itu berbunyi dan para siswa segera ke tempat duduk masing-masing dan bersiap mengikuti pelajaran yang akan diberikan oleh tenaga pendidik sekaligus orangtuaku di sekolah itu.

Seperti biasa, kami mengerjakan soal latihan untuk menunjang pemahaman materi ujian agar dapat masuk SMP yang kami favoritkan. Ya, aku duduk di kelas 6 sekarang yang pastinya beberapa bulan lagi akan meninggalkan rumah keduaku ini. Kring.. Kring.. Kali ini suara nyaring yang kami dengar itu berbunyi 4 kali, menandakan pelajaran telah usai dan kamipun berkemas untuk segera kembali ke rumah. Sesampai di rumah, aku langsung mengerjakan aktivitas yang biasa kulakukan. Dan segera meminta izin pada ibu, kemudian terdengar suara lembut tadi berbicara kepadaku,

“Jangan main sekarang, kamu harus tidur siang agar nanti malam dapat belajar tanpa mengantuk”, Akupun tak menghiraukan perintah malaikat tanpa sayapku itu dan langsung pergi begitu saja.

            Pukul 13.00, teman-teman sudah berada di depan rumah dengan niat menjemputku untuk menjalankan suatu hal yang sudah direncanakan tadi. Beberapa menit kemudian, sesampai pada lahan yang banyak ditumbuhi padi dan tebu itu, terlihat begitu berlumpur karena hujan mengguyur desa kami cukup deras kemarin. Terik matahari yang melesat menyelimuti tubuh ini tidak kami hiraukan pula, kami tetap nekat untuk melanjutkan perjalanan.

            Sewaktu dalam perjalanan, kami bernyanyi bersama layaknya teman sehingga membuat kami tidak fokus terhadap pematang yang kami lewati. Tak lama kemudian, sandalku tersangkut sehingga benar-benar membuatku terjebak pada tanah lembek itu sehingga mengharuskanku melewati sungai yang berada dipinggir pematang tanpa menggunakan sandal. Sambil menenteng sandal dan merasakan dinginnya air sungai, tiba-tiba aku merasa menginjak sesuatu tapi aku tidak menghiraukannya dan tetap melanjutkan perjalanan walau celanaku telah basah sebagian. Terasa perih sedikit awalnya, lalu perih itu semakin menjadi-jadi. Sejenak terdiam dan aku berbisik dalam batin,

“Kakiku kenapa semakin perih sekali, aku makin tak kuasa menahannya”

ADUHHH... Darah segar berwarna merah itu mengucur deras. Tak disangka, telapak kakiku sudah sobek parah. Tumpahlah air mataku yang keluar bergiliran melewati pipi tembamku. Aku berpikir bahwa, tadi aku menginjak pecahan kaca sewaktu lewat di sungai.

            Menyadari aku tak kunjung sejalan dengan teman-temanku, merekapun menghampiriku yang hanya duduk dan menangis di pinggir sungai.

“Mengapa kamu tidak lekas jalan?”,tanya Aziz dengan heran.

“Kakikuuuuuu...Sakit sekali...”,aku menunjukkan pada mereka hal yang membuatku menangis ini.

Mereka menampakkan ekspresi terkejut saat melihat telapak kakiku sudah hampir separuh berwarna merah akibat cairan merah itu, akhirnya niat kami mencari tebu kami urungkan karena mereka tak tega melihat keadaanku yang benar-benar tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan dan akhirnya aku diantar mereka kembali ke rumah. Sesampai di rumah,aku disambut ibu dengan penuh heran karena mataku yang sembab. Lalu aku menceritakan kejadian itu bersamaan saat beliau mengobati kakiku dan berkata,

“Mangkannya kalau dibilangin suruh tidur itu harusnya nurut, bukan malah main ke sawah”,

Aku hanya tersipu dan hanya penyesalan yang aku rasa, mengapa tidak ku hiraukan perkataan wanita cantik itu tadi. Kemudian kuucapkan maaf dan ku peluk dirinya dengan penuh kasih sayang. Aku telah berjanji padanya tak akan kuulangi hal bodoh itu lagi. Dan akhirnya, cerita ini menjadi hal yang berkesan buruk untukku karena aku telah menyakiti perasaan ibu sehingga membuatku celaka karena ulahku sendiri. Kisah ini dapat kujadikan acuan untuk menjadi dewasa yang lebih baik.



TAMAT