Aduh
Kala kecil itu,seorang
cewek imut yang tomboy dan suka main di bawah teriknya sang mentari sedang
berlarian. Yes, it’s me. Tapi
meskipun sifatku kayak gitu, bagiku
urusan sekolah nomer satu. Sebagai siswi, akupun berhak punya masa depan dengan
bercita-cita menjadi sosiolog yang nantinya akan melakukan observasi terhadap
perilaku masyarakat di sekitar. Kira-kira profesi itu akan menjadi berkah,
karena hobiku akan sebanding dengan berbagai kegiatan pada profesi yang aku
cita-citakan.
Hoamm.. Pancaran sang bintang pagi yang
menyelinap masuk melalui ventilasi kecil di kamarku itu berhasil membangunkanku
dari lelap yang membawaku pada bunga tidur. Akhirnya aku pun bangun, dan
menyegerakan sholat subuh. Kusambung kegiatan tadi dengan mandi dan berbenah
diri, tak lupa beberapa suap nasi kulahap untuk mengisi perut kosong ini agar
tubuhku tidak lunglai saat menerima pelajaran dari bapak dan ibu guru. Aku pun
berpamitan kepada ibu untuk meminta restu agar selamat sampai tujuan. Dan ayah,
harus mengantarku setiap hari karena jarak dari rumah ke sekolah cukup jauh.
Aku memasuki gerbang
bangunan kokoh yang sudah berdiri cukup lama, masyarakat sering menyebutnya SDN
Wandanpuro 3. Seperti biasa, kujumpai suasana kelas yang riuh sebelum bel masuk
berbunyi. Tak lama, Martin, tetanggaku juga teman satu sekolah yang tinggi
dengan rambut sedikit ikal itu menghampiriku,
“Bagaimana kalau nanti pulang sekolah kita mencari
tebu di sawah pak Budi sama Huda dan Aziz ?” tanyanya.
Tanpa basa basi aku langsung mengiyakan pertanyaan
yang membuatku bersemangat itu.
“Oke, aku
tunggu kehadiranmu sepulang sekolah nanti. Jangan lupa bawa pisau ya buat ngambil
tebunya!” jawabku sangat girang karena terbayang serunya nanti kala berada di
sawah.
Tiba-tiba bel masuk dengan alunan nyaring yang akrab
di telinga warga sekolah itu berbunyi dan para siswa segera ke tempat duduk masing-masing
dan bersiap mengikuti pelajaran yang akan diberikan oleh tenaga pendidik
sekaligus orangtuaku di sekolah itu.
Seperti biasa, kami mengerjakan soal latihan untuk
menunjang pemahaman materi ujian agar dapat masuk SMP yang kami favoritkan. Ya,
aku duduk di kelas 6 sekarang yang pastinya beberapa bulan lagi akan meninggalkan
rumah keduaku ini. Kring.. Kring..
Kali ini suara nyaring yang kami dengar itu berbunyi 4 kali, menandakan
pelajaran telah usai dan kamipun berkemas untuk segera kembali ke rumah. Sesampai
di rumah, aku langsung mengerjakan aktivitas yang biasa kulakukan. Dan segera
meminta izin pada ibu, kemudian terdengar suara lembut tadi berbicara kepadaku,
“Jangan main sekarang, kamu harus tidur siang agar
nanti malam dapat belajar tanpa mengantuk”, Akupun tak menghiraukan perintah
malaikat tanpa sayapku itu dan langsung pergi begitu saja.
Pukul
13.00, teman-teman sudah berada di depan rumah dengan niat menjemputku untuk
menjalankan suatu hal yang sudah direncanakan tadi. Beberapa menit kemudian, sesampai
pada lahan yang banyak ditumbuhi padi dan tebu itu, terlihat begitu berlumpur
karena hujan mengguyur desa kami cukup deras kemarin. Terik matahari yang
melesat menyelimuti tubuh ini tidak kami hiraukan pula, kami tetap nekat untuk
melanjutkan perjalanan.
Sewaktu
dalam perjalanan, kami bernyanyi bersama layaknya teman sehingga membuat kami
tidak fokus terhadap pematang yang kami lewati. Tak lama kemudian, sandalku
tersangkut sehingga benar-benar membuatku terjebak pada tanah lembek itu
sehingga mengharuskanku melewati sungai yang berada dipinggir pematang tanpa
menggunakan sandal. Sambil menenteng sandal dan merasakan dinginnya air sungai,
tiba-tiba aku merasa menginjak sesuatu tapi aku tidak menghiraukannya dan tetap
melanjutkan perjalanan walau celanaku telah basah sebagian. Terasa perih
sedikit awalnya, lalu perih itu semakin menjadi-jadi. Sejenak terdiam dan aku
berbisik dalam batin,
“Kakiku kenapa semakin perih sekali, aku makin tak
kuasa menahannya”
ADUHHH... Darah segar berwarna merah itu mengucur
deras. Tak disangka, telapak kakiku sudah sobek parah. Tumpahlah air mataku
yang keluar bergiliran melewati pipi tembamku. Aku berpikir bahwa, tadi aku
menginjak pecahan kaca sewaktu lewat di sungai.
Menyadari
aku tak kunjung sejalan dengan teman-temanku, merekapun menghampiriku yang
hanya duduk dan menangis di pinggir sungai.
“Mengapa kamu tidak lekas jalan?”,tanya Aziz dengan
heran.
“Kakikuuuuuu...Sakit sekali...”,aku menunjukkan pada
mereka hal yang membuatku menangis ini.
Mereka menampakkan ekspresi terkejut saat melihat telapak
kakiku sudah hampir separuh berwarna merah akibat cairan merah itu, akhirnya
niat kami mencari tebu kami urungkan karena mereka tak tega melihat keadaanku yang
benar-benar tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan dan akhirnya aku
diantar mereka kembali ke rumah. Sesampai di rumah,aku disambut ibu dengan
penuh heran karena mataku yang sembab. Lalu aku menceritakan kejadian itu bersamaan
saat beliau mengobati kakiku dan berkata,
“Mangkannya kalau dibilangin suruh tidur itu
harusnya nurut, bukan malah main ke sawah”,
Aku hanya tersipu dan hanya penyesalan yang aku
rasa, mengapa tidak ku hiraukan perkataan wanita cantik itu tadi. Kemudian kuucapkan
maaf dan ku peluk dirinya dengan penuh kasih sayang. Aku telah berjanji padanya
tak akan kuulangi hal bodoh itu lagi. Dan akhirnya, cerita ini menjadi hal yang
berkesan buruk untukku karena aku telah menyakiti perasaan ibu sehingga
membuatku celaka karena ulahku sendiri. Kisah ini dapat kujadikan acuan untuk
menjadi dewasa yang lebih baik.
TAMAT